Sabtu, 25 Februari 2012

Guruku: Krisis Spiritualitas

Tentang guru, masih terlalu banyak yang harus diselesaikan. Belum selesai satu urusan, muncul urusan lain. Yang terbaru ada istilah uji kompetensi. Kita salut usaha pemerintah berusaha meningkatkan kemampuan guru. Sekalipun ini, sebagian-sebagian, karena menurut penulis, dari sekolah-sekolah guru, proses pembinaannya, terus cara perekrutannya, dan yang paling penting komitmen bekerja daripada hanya sekedar mengejar jabatan PNS, juga harus menjadi perhatian serius pemerintah. Kinerja Guru dan PNS lainnya, memang tidak cukup hanya dinilai di atas kertas, karena kita bisa main kucing-kucingan. 


Yang tak kalah penting adalah pembinaan integritas, kejujuran dan tanggung jawab. Hanya saja yang terakhir ini, dapat terlaksana jika seorang Guru atau PNS lainnya memiliki tanggung jawab bukan hanya kepada atasannya semata, tetapi memiliki tanggung jawab kepada Tuhannya. Ini seperti menggelikan bagi sebagian orang, tetapi tanpa yang satu ini, sebenarnya kita hanya diajari secara bertahap mempelajari situasi saja kemudian membuat laporan bahwa segalanya telah aman tapi itu hanya di atas kertas. Yang dilapori dan yang melapor telah aman, maka cukuplah, urusan mengantar siswa menjadi manusia cerdas, bertaqwa dll, urusan lain.  Selebihnya sudah tidak terjangkau. Alasannya, kejujuran yang dibangun di atas pondasi kepercayaan kepada Tuhan sangat jauh berbeda dengan kejujuran yang dibangun di atas prinsip kemanusiaan. Jauh sekali perbedaannya. Lebih dilematis lagi, jika pendidikan agama digenjot dan gembleng secara serius, dikhawatirkan muncul ekstrimislah, terorislah, militanlah  atau sejenisnya. Karena itu jam pendidikan agama dikurangi hingga tinggal 2 jam perminggu. Akhirnya pembinaan karakter, tanggung jawab, integritas dan kejujuran murni menurut budaya, kebiasaan umum, bukan berdasarkan kepada kepercayaan kepada ketuhanan yang maha esa. Mungkinkah melahirkan manusia yang bekerja dengan asas Ketuhanan Yang maha Esa, jika seumur-umur di sekolah sampai PT hanya mendapatkan segelintir pendidikan keagamaan? Membangun karakter manusia dengan menjauhkan ajaran agama sama saja dengan mencipta robot yang cerdas. Robot dengan kecerdasan tertentu banyak yang lebih pintar dari manusia, tapi hanya sebatas perintah yang diberikan. Soal tanggung jawab, tenggang rasa, integritas, dll, robot kering dari semua sifat-sifat itu.

Sebaliknya, pendidikan agama, oleh sebagian masyarakat dianggap segala-galanya. maksudnya Jika pendidikan agama telah cukup, maka cukuplah untuk menciptakan kehidupan yang bahagia di dunia. Dengan menguasai dan memahami banyak cabang-cabang ilmu agama, secara otomatis kehidupan akan berpihak kepadanya. Mereka lupa, ideologi dan ajaran agama sebatas pedoman yang memandu dan menata pikiran, perasaan, dan kehidupan kaitannya dengan kesemetaaan. Itulah yang diistilahkan al-Qur'an dengan kata Hudan, bayyinat, alfurqan, dll. Selain itu, masih dibutuhkan ketrampilan tangan guna mendukung kesuksesan di dunia ini, tanpa melanggar rambu-rambu ketuhanan.


Pemerintah juga sebaiknya melihat  beberapa hari yang lalu, tersebar di beberapa media honor guru hanya Rp. 100. 000 /bulan.   Masya Allah...... betapa mulia dan sekaligus menjadi tragedi guru di Indonesia. Bekerja 1 bulan mencerdaskan anak bangsa dengan segala kemampuan dikerahkan, hanya memperoleh seratus ribu rupiah. Itupun masih baguslah, masih mendapatkan yang namanya gaji dari APBN atau APBD. Lumayan ada yang disebut telah memperoleh gaji, lembaga yang menggaji memikirkan cukup atau tidak, layak atau tidak bukan urusan.Pendapatan guru seperti ini lebih murah daripada pendapatan penjaga WC umum diperkotaan.//Zul


Jumat, 24 Februari 2012

Sambutan Ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2012 M/1433 H, MIN Botteng


Assalamualaikum.Wr.Wb
الحمد لله الذي نستعينه ونستغفره ونستهديه
اللهم صل على محمد وعلى اله واصحابه ومن واله
امابعد
Yang terhormat Bapak kepala kantor wilayah kementerian agama provinsi Sulawesi barat beserta rombongan
Yang terhormat bapak kepala kantor kementerian agama kabupaten mamuju beserta rombongan
Yang saya hormati pula Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) provinsi Sulawesi barat
Yang terhormat para pengawas, kepala Madrasah, kepala sekolah,  tokoh masyarakat orang tua siswa serta hadirin yang berbahagia


Marilah memuji Allah swt, pujian yang sesuai dengan keagungan-Nya, karena hanya Dia-lah Allah yang Maha terpuji. Barang siapa yang suka memuji Allah swt, Yang Maha Terpuji, niscaya dia mendapatkan cipratan pujian dari-Nya. Sebaliknya semakin tidak pernah memuji Allah swt, bahkan melanggar perintah yang Maha Terpuji, maka lambat atau cepat pasti akan terjerembab ke dalam kehinaan. Dengan demikian,  sebenarnya kehormatan, pujian dan kemuliaan,  kita manusia inheren (menyatu) dengan memuji Allah swt.  Dengan ungkapan lain, memuji Allah swt, merupakan kebutuhan kemanusiaan yang bermartabat.


Salawat dan salam semoga semoga Allah curahkan kepada nabi yang benar-benar telah mencontohkan cara memuji Allah swt, nabi yang karena beliau kita berkumpul pada pagi ini. Semoga kemuliaan Muhammad saw, di tengah kesungguhan kita mengikuti jejak-jejak risalah yang dibawanya, kelak kita mendapat syafaatnya. Amien Ya Mujibas Sailien


Maasyiral muslimin A’azzakumullah………………
Selaku panitia penyelenggara peringatan Maulid Nabi besar Muhammad saw, saya mewakili seluruh panitia menyampaikan terima kasih yang tak terhingga atas kehadiran bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara saudara sekalian. Sebuah kerhormatan bagi kami, dan semoga pertemuan ini memberi maslahat, amien ya Rabbal ‘alamien


Maasyiral muslimin A’azzakumullah………………
Dalam rangka mengingat dan mengambil i’tibar atau pelajaran dari memperingati Maulid nabi Muhammad saw, maka sebelum acara puncak ini, panitia telah menggali bakat seni dan membangun prestasi siswa-siswi melalui beberapa jenis lomba seni  yang mengusung tema meneladani akhlah Rasulullah saw. sebagai tema sentral peringatan Maulid nabi saw MIN Botteng tahun ini. Seluruh cabang lomba dan para pemenangnya akan diumumkan oleh panitia pelaksana.


Kegiatan pendahuluan tersebut, yakni lomba seni, kemudian peringatan dan pencerahan hikmah Maulid nabi saw yang akan disampaikan oleh yang terhormat Muhammad Sahlan M.Si nanti, dilanjutkan dengan pagelaran atau pertunjukan parrawana Mandar nanti malam, sebuah pertunjukan seni lokal sekaligus dari sudut nilai masih memelihara tradisi masyarakat agamis.
Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut di atas, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MN) Botteng berharap semoga dapat memberikan nuansa islami, yang merupakan inti berdirinya madrasah ini.


Maasyiral muslimin A’azzakumullah………………
Terakhir…….. jika  dalam pelaksanaan peringatan Maulid  Nabi saw hari ini, terdapat hal-hal yang tidak berkenan di hati para undangan sekalian, maka seluruh panitia dan keluarga besar Madrasah Ibtidaiyah Negeri Botteng, memohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan, terimakasih
Demikian
Wassalamu ‘alaikum wr. Wb.


                                                                                                   

                                                                     Botteng, 15 Februari 2012 

                                                                                Ketua Paniti

                                                                                         ttd

                                                                              Zulkifli, M.Pd.I
                                                                                                               

Sambutan Kepsek MIN Botteng Dalam Peringatan Maulid nabi Muhammad SAW 1433 H


 الحمد لله الذي حمدا يوافى نعمه ويكافئ مزيده ياربنا لك الحمد كما ينبغى لجلال وجهك الكريم وعظيم سلطانك  اللهم صل وسلم وبارك على رسوله محمد صلى الله عليه وسلم وعلى اله واصحابه ومن تبع هداه
امابعد
Yang terhormat Kepala Kantor Kementerian Agama Prov. Sulbar, dalam hal ini diwakili oleh Oleh Kabag TU, H. Muhammad Dinar Faisal, S. Ag, M.Si

Yang terhormat Sesepuh dan orang tua kita, H. Sahabuddin Kasim, M.Si, mantan Kakanwil Kemenag Prov. Sulbar, sekaligus Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Prov. Sulbar

Yang terhormat Bapak Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Mamuju yang diwakili oleh Kepala Seksi Mapenda, Bapak Adhar, S.Ag. M.A.P

Yang terhormat Bapak Pengawas, kepala sekolah dan kepala madrasah serta hadirin para undangan yang hadir pada kesempatan ini.

 Pertama-tama  saya mengucapkan selamat datang kepada hadirin dan hadirat sekalian  yang telah berkenan datang menghadiri undangan kami sehingga terbentuklah pertemuan yang tulus dan penuh rasa persaudaraan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Botteng.
Kedua, saya juga mengucapkan selamat datang bulan Rabi'ul Awal, yaitu bulan kelahiran Baginda Nabi Besar Muhammad bin Abdillah SAW, sekaligus merupakan salah satu penggalan masa yang sangat agung. Sejarah mencatat, Hijrah Nabi SAW dari Mekkah ke Madinah juga terjadi pada hari pertama Rabi'ul Awal sehingga menjadi awal penanggalan bulan Hijriah umat Islam. Oleh karena itu, bulan ini adalah Rabi'ul Maulud sekaligus Rabi'ul Hijrah. Bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan bulan terjadinya Hijrah dari Mekah ke madinah.

 
Hadirin yang dimuliakan Allah SWT…………………..
Sekitar 6 bulan lalu, saya pertama kali menginjakkan kaki di bumi Botteng ini, telah bersatu dengan masyarakat sekitar. Alhamdulillah, dapat berbaur bersama dalam rangka mengembangkan dan memajukan Madrasah kita ini. Ucapan terimakasih banyak saya haturkan kepada masyarakat Botteng karena telah ikut berpartisipasi, paling tidak, memberi motivasi anak-anak di rumah sehingga mereka rajin berangkat ke madrasah setiap hari. 
Sekaligus saya ucapkan terimakasih kepada bapak dan ibu guru serta staf dan komite sekolah yang tulus membimbing dan mengajar anak-anak, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik dan nyaman sebagaimana yang kita harapkan bersama.  Betapa mulia dan agung pekerjaan ini, bagi mereka yang menyadari. Yang tidak kalah penting, Keluarga besar Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Botteng, menyampaikan terimakasih banyak kepada kepala kantor kementerian agama provinsi Sulawesi Barat beserta jajarannya dan kepala Kementerian agama kabupaten Mamuju beserta stafnya, yang telah memperhatikan dan membimbing kami, demi peningkatan pelayanan di madrasah ini

Hadirin yang dimuliakan Allah SWT…………….……….
Selanjutnya, demi peningkatan kinerja guru-guru dan peningkatan prestasi belajar anak didik di sekolah umum yang berciri keagamaan ini, kita telah sepakat melaksanakan 2 program unggulan, yaitu, membiasakan mengaji Magrib (Gemmar) yang telah menjadi program kementerian Agama secara nasional. Selain itu, secara intern, madrasah menetapkan pula program unggulan kedua yang dikenal dengan nama Gemar Mengaji Pagi (Gema Pagi). 
Gemar Mengaji Magrib (Gemmar) sebagai program nasional kementerian ini, telah dimaklumi bersama. Melalui program ini diharapkan, siapapun yang tergabung di kementerian ini, menyempatkan mengaji dan mengkaji al-Qur’an atau mengajarkannya menjelang atau sesudah Shalat Magrib. Adapun program unggulan lokal, yaitu Gemar Mengaji Pagi (Gema Pagi) dilaksanakan pada jam-jam pertama pembelajaran setiap pagi. Bentuk pelaksanaannya, siswa-siswi dibentuk secara berkelompok yang dibimbing secara privat oleh guru yang telah ditunjuk. Seluruh guru dan staf dalam program ini diwajibkan memberikan kontribusi, mengajar siswa-siswi membaca Al-qur’an. Secara sederhana bentuk kegiatan ini, mirip dengan bimbingan mengaji IQRO’ yang telah umum di masyarakat.

Hadirin yang dimuliakan Allah SWT………………………
Sebagai Madrasah Ibtidaiyah Negeri di Kabupaten Mamuju, madrasah ini memperoleh pendanaan lebih dibandingkan madrasah-madrasah swasta. Menyadari hal ini, maka segenap warga MIN Botteng, mulai dari kepala sekolah, guru, staf sampai komite,  memikul amanah yang sangat berat tetapi sangat mulia, yaitu mengantar anak didik kita mampu memahami ilmu pengetahuan agama dengan indikator mampu membaca Al-Qur’an, melaksanakan shalat lima waktu dan kewajiban sehari-hari lainnya serta mahir pengetahuan umum, untuk bekal melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.
Sebelum mengakhiri sambutan ini, kami memohon kesediaan Bapak kepala kantor Kementerian Agama Sul-bar, untuk memberikan sambutan sekaligus meresmikan berdirinya Madrasah Diniyah (MADIN) Hikmat Botteng dan Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA) Hikmat Nurul Huda di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Botteng. Dua Lembaga pendidikan tersebut didirikan dalam rangka mendukung proses pembelajaran di madrasah ini.

Hadirin yang dimuliakan Allah swt…………………
Akhirnya, selaku kepala sekolah mewakili teman-teman guru dan staf, memohon doa restu hadirin, semoga kami mampu mengemban amanah ini, karena kelak kami akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT nanti, sekaligus pula mampu mempertanggungjawabkan sebagai lembaga formal di negeri ini.
Demikian sambutan ini, jika terdapat hal-hal yang tidak berkenan, kami mohon maaf.
Wassalamu alaikum war. Wb.
                                                         Botteng, 15 Februari 2012
       Kepala Sekolah MIN Botteng
                                  
                                  
         ttd

            Jamaluddin, S.Pd.I

Kamis, 23 Februari 2012

Pagelaran Seni MIN Botteng

Masih  rangkaian Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, MIN Botteng menggelar  pertunjukkan musik kreatif pada Rabu malam, 15/2. Pagelaran ini memadukan musik modern yang digandrungi yaitu karouke  dengan pertunjukkan musik tradisional Mandar, Parrawana  “Sisenga”  dari Maliaya Kec. Malunda dan tari-tarian Mandar dari Kab. Polman. Kehadiran dan antusias para penonton menjadikan pertunjukkan musik ini semakin menghibur. Halaman utama MIN Botteng penuh oleh pengunjung, terutama saat penampilan Parrawana Mandar.

Melalui wawancara  dan pengamatan terhadap  masyarakat sekitar MIN Botteng, diketahui sebagian besar sangat menyukai acara ini. Hal itu ditandai dengan membludaknya kehadiran pengunjung sekalipun diserta gerimis


Dibandingkan dengan setiap pertunjukkan musik dimanapun, pertunjukkan musik MIN Botteng agak berbeda. Acara hiburan ini dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ust Saharuddin, S.Pd.I dari Kab. Polman

Panitia dan keluarga besar MIN Botteng merasa bersyukur, karena acara  yang berlangsung dari pagi dilanjutkan pada malam hari ini berjalan dengan lancar. Ucapan terimakasih juga  kepada semuanya  yang ikut membantu menyukseskan acara ini. Paling terakhir, Jika dalam acara ini terdapat kekurangan dan hal-hal yang tidak berkenan di hati, Panitia dan keluarga besar MIN Botteng memohon maaf yang sebesar-besarnya.//Zul

Rabu, 22 Februari 2012

MIN Botteng: Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1433 H/2012 M

Dari kenabian, fondasi kami di dunia
Dari kenabian, agama kami punya ritualnya
Dari kenabian, beratus ribu kita satu
Bagian dari bagian tak terpisahkan
Dari kenabian, kita punya melodi yang sama
Tujuan yang sama. 
Napas yang sama
(Sir Muhammad Iqbal, Rumuz-I Bekhudi)


Begitulah esensi wujud kenabian yang digubah
penyair-sufi dan sufi-penyair Pakistan. Mulai dari pondasi, ritual, melodi, persatuan, ikatan rasa  umat ini dipersatukan dalam nubuwwah/kenabian Muhammad saw. Seremonial peringatan kelahiran nabi saw yang telah membudaya ini, mesti lebih mengedepankan esensi dan tujuan seperti tertulis dalam puisi Muhammad Iqbal. Betapa agung kehadiran Muhammad SAW, namun bagi kita umatnya, keagungan itu tidak sertamerta mudah diperoleh, kecuali jika mampu mengikhlaskan diri mengikuti jejak nabi SAW.
 Tahun ini, tepatnya tanggal 15 Februari 2012 bersamaan dengan tanggal 22 Rabiul awal 1433 H di halaman utama,  MIN Botteng menggelar  peringatan Maulid nabi saw. Kemeriahan acara kali ini benar sangat tampak. Dengan latar spanduk berukuran 5 m x 3 m merupakan spanduk latar yang cukup besar untul level lembaga pendidikan setingkat SD. Kemeriahan tampak bukan pada prosesing peringatan Maulid semata dengan mengahadirkan Bapak Kakanwil Kemenag Sulbar yang diwakili oleh Bapak H. Muhammad Dinar Faisal, S.Ag, M.Si beserta rombongan, Kepala Kantor Kemenag Kab. Mamuju, diwakili oleh Bapak Adhar, M.A.P (Kasi Mapenda) beserta rombongan dan mantan Kakanwil Kemenag sulbar sekaligus sebagai ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Prov. Sulbar Bapak H. Sahabuddin Kasim, MH, dan penceramah Muhammad Sahlan M.Si, serta mantan Kepala Sekolah, Bapak Wahyun S.Ag, M.Pd.I. Selain itu, peminat dan penonton hiburan di Desa Botteng Utara, pada malamnya, ikut menikmati suguhan pertunjukkan parrawana Mandar yang energik, tari Mandar dan karaoke bersama.
Rombongan kakanwil Kemenag Sulbar dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Mamuju disambut dan diarak dengan iring-iringan parrawana Mandar sebagai lambang penghormatan kepada to Malaqbiqta. Penyambutan  tersebut dilakukan dari jarak 50 meter. Sebelum memasuki lokasi MIN depan pintu gerbang, diadakan pengalungan sarung sutra Mandar. 
 Kegiatan peringatan maulid saw, yang lumayan besar ini, menurut ketua panitia, Zulkifli, M. Pd.I karena   seluruh rangkaian kegiatan dari pagi malam, menghadirkan paket ceramah hikmah Maulid sekaligus tiga jenis hiburan sesudah pelaksanaan shalat isya’ , yaitu parrawana, tari-tarian tho Mandar dan karaoke yang telah menjadi kecenderungan muda-mudi.  
Kemeriahan acara di MIN Botteng kali ini, dibenarkan oleh mantan kepala Dusun sekaligus ketua komite Madrasah, Bapak Tottong.  “ Wah,  baru kali ini acasampai ra besar seperti ini di adakan di MIN Botteng setelah beberapa kali pergantian kepala sekolah” Ujar Bapak Tottong.//Zul








 


Sabtu, 11 Februari 2012

Memikirkan Berbeda Dengan Bertindak

Banyak pekerjaan yang mestinya kita selesaikan ternyata tidak terselesaikan. Di antara faktor penyebabnya, hanya sepele saja, seprti memikirkan pekerjaan itu, bagaimana , mengapa, untuk apa dan sebagainya. Seluruh faktor penghambat tuntasnya pekerjaan tersebut, karena hanya berhenti pada memikirkannya.

Berbeda dengan tindakan. Sekalipun tanpa pemikiran yang canggih amat, tapi berani bertindak biasanya rencana pekerjaan dapat dituntaskan.  Contoh, jika hendak membuat tulisan dengan judul tertentu, jika hanya memikirkan bagaimana menuliskannya, bagaimana alur pikirnya dan lain sebagainya, niscaya tulisan tidak akan rampun-rampung. Tetapi dengan pikiran sederhana namun berani memulai menulis, sinilah rahasia keberhasilan menulis diraih. Banyak orang hebat tetapi hebat berpikir, tidak hebat bertindak, sehingga ilmu dan pengetahuannya tidak teraktualisasikan. 

Maka, nasihat sederhana, mulailah memikirkan cita-ciat dengan cara bekerja, bukan sebaliknya memikirkan cita-cita saja lalu cukup. Ungkapan Arab yang terkenal al-harakahh barakah artinya bergerak itu membawa berkah. Maka bergeraklah, tulislah, kerjakanlah dan lakukanlah niscaya gerakan itu mampu mengundang pikiran aktif mencapai apa yang diinginkan. dan, itu telah dibuktikan oleh banyak orang.//Zul.
.

Jumat, 10 Februari 2012

Maulid nabi Saw: Renungan Cinta Seorang Muslim

Luar biasa umat ini menyambut dan memperingati hari kelahiran nabinya, Muhammad saw. Dari desa dan kampung terpencil sampai perkotaan ramai  bermaulidria. Bahkan dari muslim yang rajin sembahyang sampai yang ogah sembahyang juga tetap semangat memperingati hari lahir nabi. Pengalaman penulis dari masa anak-anak sampai detik ini, tetap membahana kegiatan peringatan maulid nabi saw. Hanya saja apakah ada yang berubah atau sekedar seremonial belaka, ini memerlukan kajian, tentu bukan untuk orang lain, tetapi bagi saya sendiri.

Namun , bagi kita yang memang benar-benar memahami dan menyadari kecintaan kepada nabi Saw ini, maka kecintaan yang satu ini, tidak ada yang sanggup menyerupainya. Setiap orang memiliki banyak cinta,  dari cinta yang baik sampai yang buruk sekalipun karena itulah memang batas pemahamannya. Tetapi kecintaan kepada nabi, asyaraful anbiya' ini harus di atas dari segala cinta.

Orang yang sanggup memikul cinta luhur ini, hanya orang yang benar-benar mendambakan keridoan Allah swt, mengharapkan keselamatan di akhirat kelak dan bagi mereka yang banyak mengingat Allah swt. Jika tidak, maksudnya jika tidak memiliki tiga kriteria tersebut, ia hanya mampu mendendangkan cinta, tetapi hanya di bibir,  cinta palsu palsu, istilah anak sekarang.

Secara pasti dan tidak ragu dalam diri rasulullah terdapat contoh dan teladan, kita dengar dari cermah ke ceramah dan tahun demi tahun, karena itu adalah potongan ayat 21 surat al-Ahzab. Namun jarang terdengar bahwa ternyata tiga kriteria di atas merupakan ciri yang harus dimiliki orang yang menjadikan rasulullah sebagai teladan secara paripurna. Saya ulangi sekali lagi, bahwa jika dalam diri tidak terdapat tiga kriteria tersebut di atas, maka terlalu berat dan sukar mengangkat rasulullah saw sebagai teladan. Mengumbar cinta dan menjadikan teladan memang murah dan mudah diucapkan, tetapi kenyataanlah yang paling fasih berbicara.

Coba renungkan dua ayat di bawah ini, resapi maknanya atau periksa dalam kitab-kitab tafsir standar atau tanyakan kepada ahlinya, niscaya pembaca mengetahui bahwa tidak mudah meneladani nabi, lebih-lebih mencintai nabi saw.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً ﴿

  ٢١
021. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

dan firman Allah swt:
 قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٣١﴾


 031. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat pertama di atas secara tegas menyebutkan bahwa hanya orang yang mengharap rahmat Allah, mengharap kedatangan  hari kiyamat dan banyak mengingat Allah-lah yang benar-benar mampu menjadikan nabi saw sebagai teladan. Sedangkan ayat kedua menegaskan, jika ada orang mengaku cinta kepada Allah swt tapi tidak mau mengikuti nabi saw, ia tergolong pembohong.//Zul

Sekedar Peringatan Maulid Nabi saw.

Beberapa waktu lalu, tepatnya pas tanggal 12 Rabiul awal tahun 1433 H, saya diundang menyampaikan hikmah maulid di sebuah masjid pinggir pantai di kawasan Taapalang. Yang aneh ternyata, panitia sendiri lupa sudah tahun ke berapa kita memperingati maulid. Hal ini saya ketahui karena pihak panitia menanyakan hal ini. Spontan,  teringat jangan-jangan memang hanya seremonial belaka kita merayakan maulid, lalu kita menganggapnya sebagai bagian ajaran agama yang sangat penting. Tetangga saya bahkan berani menyatakan peringatan maulid termasuk fardu kifayah, meskipun demikian saya tahu betul tetangga saya dan tetangganya tetanggaku hampir sebagian besar tidak melaksanakan shalat.

Seperti inilah sebagian  cara umat ini memperingati hari kelahiran nabinya. Patut diacungi jempol, semangat mambaca munu' (berkumpul bersama disertai membaca Barzanji) kemudian setelah itu membagikan berkat (kue ringat yang disedekahkan usai mambaca-baca). Tapi yang aneh dan pemandangan lucu, ketika Barzanji dibacakan, disekelilingnya sebagian besar bercanda dengan keras, sampai-sampai bacaan Barzanji samar terdengar karena terganggu oleh suasana sendagurau. Bahkan, saya amati memang tidak terlihat tanda-tanda bahwa suasana itu dalam rangka mengingat kembali sejarah perjuangan Nabi saw.
 
Lagi-lagi, memang beginilah cara yang disukai dalam mengekspresikan peringatan maulid saw. Jika mengundang pembawa hikmah banyak yang kurang setuju, lebih baik baca barzanji saja, katanya. Padahal, sesungguhnya acara memperingati maulid dapat memberi faedah banyak, jika setting acaranya diprogram secara matang sehingga setiap yang hadir mampu menemukan pelajaran dari sosok yang diperingati.


Hemat saya, bukan bid'ah atau tidak bid'ah, tetapi manfaat apa yang diperoleh dari acara yang dianggap penting ini. Dengan ungkapan lain, semua yang berkumpul dalam peringatan tersebut, mampu membawa pengetahuan yang menjadi inti, memperingati maulid nabi saw. Jika tidak, namanya apa yah?????//Zul

Senin, 06 Februari 2012

هل يثاب من يستمع إلى القرآن دون أن يفهمه ؟




هل يثاب المرء (المؤمن) إذا استمع للقرآن دون أن يفهم ما يستمع إليه مع علمه بأنه من القرآن ؟ أم إنه لا يثاب إلا من يعي ما يسمع ؟ أرجو أن تقدموا دليلا من القرآن والحديث الصحيح .
الجواب :

الحمد لله


أولا : 


أمر الله تعالى المؤمنين بالاستماع إلى القرآن ، والإنصات له ، أمرا عاما ، فقال سبحانه : ( وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ) الأعراف/204
قال الشيخ السعدي رحمه الله : 


" هذا الأمر عام في كل من سمع كتاب الله يتلى، فإنه مأمور بالاستماع له والإنصات، والفرق بين الاستماع والإنصات، أن الإنصات في الظاهر بترك التحدث أو الاشتغال بما يشغل عن استماعه.


وأما الاستماع له، فهو أن يلقي سمعه، ويحضر قلبه ويتدبر ما يستمع، فإن من لازم على هذين الأمرين حين يتلى كتاب الله، فإنه ينال خيرا كثيرا وعلما غزيرا، وإيمانا مستمرا متجددا، وهدى متزايدا، وبصيرة في دينه، ولهذا رتب الله حصول الرحمة عليهما، فدل ذلك على أن من تُلِيَ عليه الكتاب، فلم يستمع له وينصت، أنه محروم الحظ من الرحمة، قد فاته خير كثير.


ومن أوكد ما يؤمر به مستمع القرآن، أن يستمع له وينصت في الصلاة الجهرية إذا قرأ إمامه، فإنه مأمور بالإنصات، حتى إن أكثر العلماء يقولون: إن اشتغاله بالإنصات، أولى من قراءته الفاتحة، وغيرها " انتهى من " تفسير السعدي" (314) . 


والمقصود الأعظم من الاستماع والإنصات : أن يتدبره السامع ، ليفهم معانيه ، ويعمل بما فيه. قال الإمام الطبري رحمه الله : 


" يقول تعالى ذكره للمؤمنين به ، المصدقين بكتابه ، الذين القرآنُ لهم هدى ورحمة : ( إذا قرئ ) ، عليكم، أيها المؤمنون، (القرآن فاستمعوا له) ، يقول: أصغوا له سمعكم، لتتفهموا آياته، وتعتبروا بمواعظه = (وأنصتوا) ،إليه لتعقلوه وتتدبروه، ولا تلغوا فيه فلا تعقلوه = (لعلكم ترحمون) ، يقول: ليرحمكم ربكم باتعاظكم بمواعظه، واعتباركم بعبره، واستعمالكم ما بينه لكم ربكم من فرائضه في آيه " انتهى من "تفسير الطبري" (13/244) .


فإذا تحقق في هذا المقام : استماع العبد وإنصاته ، وتدبره لما يتلى عليه وتفهمه لمعانيه ، حصل بذلك خير الدنيا والآخرة . 

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله : 


" وَبِهَذَا السَّمَاعِ هَدَى اللَّهُ الْعِبَادَ وَأَصْلَحَ لَهُمْ أَمْرَ الْمَعَاشِ وَالْمَعَادِ وَبِهِ بُعِثَ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِهِ أَمَرَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارَ وَاَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانِ. وَعَلَيْهِ كَانَ يَجْتَمِعُ السَّلَفُ كَمَا كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذْ اجْتَمَعُوا أَمَرُوا رَجُلًا مِنْهُمْ أَنْ يَقْرَأَ وَهُمْ يَسْتَمِعُونَ وَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - يَقُولُ لِأَبِي مُوسَى: ذَكِّرْنَا رَبَّنَا فَيَقْرَأُ أَبُو مُوسَى وَهُمْ يَسْتَمِعُونَ " انتهى من " مجموع الفتاوى " (11/626) . 


ثانيا : 


إذا كان السماع الكامل هو ما تحقق معه الفهم والتدبر ، فلا شك أن من أتى بما يقدر عليه من ذلك ، فهو محمود بما أتى به ، معذور بما عجز عنه ، ولا ينبغي أن يكون ما عجز عنه عذرا في ترك ما يقدر عليه من الخير ؛ فإن الميسور لا يسقط بالمعسور ؛ يعني : أن ما يمكن العبد الإتيان به ، من واجب أو مستحب ، لا يسقط عنه لأجل ما عجز عنه ؛ لقول الله تعالى : ( فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ) التغابن/16 . 

سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :

هل يثاب الإنسان الذي يقرأ القرآن ، ولو لم يفهم معانيه ؟


فأجاب :


" القرآن الكريم مبارك كما قال الله تعالى ( كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ) ، فالإنسان مأجور على قراءته ، سواء فهم معناه أم لم يفهم ، ولكن لا ينبغي للمؤمن أن يقرأ قرآناً مكلفاً بالعمل به بدون أن يفهم معناه ؛ فالإنسان لو أراد أن يتعلم الطب مثلاً ، ودرس كتب الطب ، فإنه لا يمكن أن يستفيد منها حتى يعرف معناها ، وتشرح له ، بل هو يحرص كل الحرص على أن يفهم معناها من أجل أن يطبقها ، فما بالك بكتاب الله سبحانه وتعالى الذي هو شفاء لما في الصدور وموعظة للناس أن يقرأه الإنسان بدون تدبر وبدون فهم لمعناه ، ولهذا كان الصحابة رضي الله عنهم لا يتجاوزون عشر آيات حتى يتعلموها وما فيها من العلم والعمل ، فتعلموا القرآن والعلم والعمل جميعاً .
فالإنسان مثاب ومأجور على قراءة القرآن سواء فهم معناه أم لم يفهم ، ولكن ينبغي له أن يحرص كل الحرص على فهم معناه ، وأن يتلقى هذا المعنى من العلماء الموثوقين في علمهم وأماناتهم ، فإن لم يتيسر له عالم يفهمه المعنى فليرجع إلى كتب التفسير الموثوقة مثل تفسير ابن جرير وتفسير ابن كثير وغيرهما من التفاسير التي تعتني بالتفسير الأثري المروي عن الصحابة والتابعين رضي الله عنهم " انتهى من"فتاوى نور على الدرب" شريط (85) وجه ( أ ) 

والله تعالى أعلم .
    الشيخ صالح المنجد