Jumat, 18 Mei 2012

Berdoalah

Banyak orang yang sombong dengan mengandalkan kemampuan diri. Tidak menyadari selain keampuhan diri, terdapat Zat yang memberikan keampuhan itu. Kesombongan itu hingga sampai puncak hingga mengeliminir keberadaan Tuhan. Tuhan baginya seperti daun pisang. Saat hujan turun, dia membutuhkan daun pisang sebagai payung darurat, hujan berhenti, daun pisangpun dibuang. Ibarat ini seperti orang yang menghadap Tuhan, merendah di hadapan Tuhan, berdoa kepada Tuhan dengan ratap tangis saat hidupnya dirundung duka dan musibah. Ketika kehidupannya lapang, memperoleh rezeki dan bahagia, Tuhan dilupakan. Fungsi Tuhan sudah tidak ada dalam perjalanan hidupnya.

Berdoa sebenarnya kebutuhan bagi kekuatan jiwa seorang mukmin, waktu senang, lebih-lebih  saat sengsara. Saat diberi kemampuan berdoa, saat itu pula diberi kekuatan jiwa. Dan, kekuatan satu ini, di atas dari kekuatan materi. Mereka yang rajin berdoa, dipastikan lebih memiliki kekuatan. Hebatnya kekuatan ini, bukan tidak dapat berkumpul dengan kekuatan-kekuatan lain yang dimiliki. Maksudnya, meski telah memiliki kekuatan material, dengan berdoa justru kekuatan materi mendapatan sokongan dan penyangga.

Allah swt  dalam sekian banyak ayatnya dan hadis nabi saw. secara tegas menyatakan, siapapun yang meminta kepada-Nya, akan diberi. Allah swt sendiri menghitung doa dan pekerjaan hamba-Nya sebagai ibadah. Jika seperti itu nilai berdoa, mengapa ada orang yang enggan berdoa kepada-Nya. Ini dapat dipahami saking tidak mengertinya soal Allah swt dan berdoa. Doa dalam kamu bahasa Indonesia adalah permohonan (harapan, pujian) kpd Tuhan. Oleh karena itu, dalam bentuk lisan, suara hati, dengan tulisan, niat, perbuatan yang ditujukan memohon dan memuji Allah, disebut berdoa. Ungkapan lainnya seperti ditulis oleh ulama, doa itu terbagi dua: doa dalam arti meminta dan doa dalam arti ibadah. Ketika mendrikan shalat kedua penertian doa itu telah terangkum di dalamnya. 

Zaman ini dilingkupi oleh kekuatan paham dan keyakinan materialisme. Sampai-sampai seorang mukmin sekedar berdoa untuk melaksanakan aktivitas ringanpun, enggan berdoa. Saat mulai makan, minum, tidur, keluar rumah, memakai baju,masuk WC dll, seluruhnya satu paket dengan doa dalam paradigma kenabian. Inilah kelebihan dan kekuatan seorang mukmin lantaran seluruh aktifitasnya selalu diiringi doa. 

Apa pengaruh doa bagi kehidupan? Untuk menjawab berikut ini saya kutipkan hasil penelitian tentang pengaruh doa/bacaan doa untuk segelas air: molekul air yang dibacakan doa islami, air membentuk hexagonal sempurna dibandingkan saat diperdengarkan lagu atau suara lain. Molekul air dalam hexagonal (berbentuk segi enam) inilah molekul air yang paling baik dan sempurna, yang sangat dibutuhkan tubuh manusia.//Zul


Kamis, 10 Mei 2012

Sukhoi: Menggedor Kesadaran Kita

Sukhoi, Sukhoi dan Sukhoi lagi. Pesawat Sukhoi Super Jet 100 yang hilang di wilayah Cidahu, Sukabumi itu menjadi perbincangan banyak orang, secara khusus orang yang memiliki keahlian di dalamnya. Sangat mungkin, jika anda pembaca menambahkan komentar-komentar itu berbeda karena beda paradigma dan analisis yang dipakai. Oleh karena itu silahkan para ahli menerangkan sabab-musabanya, kenapanya, mengapanya, ada apanya dan  pertanyaan selidik lain, karena memang harus mencari jawaban yang rasional dan obyektif demi kepuasan akal dan pikiran.  Pembaca yang masih menyisakan Tuhan dalam kesibukan sehari-hari, mari mendoakan seluruh korban pesawat buatan Rusia ini, semoga Yang Maha Kuasa memberi ampunan atas segala dosa dan membalas berlipat ganda atas segala kebajikan yang telah ditinggalkan. Kemudian semoga keluarga yang ditinggal sabar dan tabah karena semua ini pelajaran pelajaran hidup. Seorangpun tidak ada yang bertahan awet menempati kolong jagat raya ini. 

Masih berkaitan dengan musibah pesawat Sukhoi ini, apakah ada kaitannya dengan malakul maut?. Itu pasti. Malakun itu adalah malaikat, bentuk jamak dari Malaikat yang sudah lumrah di telinga kita. sedangkan maut adalah kematian. Malakul maut berarti Malaikat yang ditugasi oleh Allah swt mencabut nyawa makhluk. Dalam pandangan teologis-ketuhanan jawabannya terlalu sederhana, sekalipun tidak mengandung tafsir meremehkan dan menganggap enteng. Dalam paradigma kebertuhanan, semua telah menjadi ketetapan, ditakdirkan Tuhan sebelumnya. Cara dan sebab boleh berbeda-beda, namun pintunya hanya satu, yaitu kematian. Pandangan dan keyakinan seperti ini, mungkin pembaca anggap kuno, ketinggalan zaman, terlalu ektrim, militan atau bahasa yang lain-lain, tetapi dibalik semua itu, sesungguhnya pandangan dan keyakinan ini teramat modern, kosmopolit dan merupakan terapi paling jitu orang yang dilanda musibah. Jika dalam pikiran tidak ada sedikitpun pikiran dan pandangan ideologis ketuhanan seperti ini, lambat laun pasti akan membahayakan diri sendiri. Ndak percaya silahkan buktikan................!

Ibnu Athaillah dalam Al-Hikamnya, La tarhal minal kawni ilal kawni, walakinirhal minal kawni ilal mukawwin terjemahan bebasnya : janganlah kamu berpikir dari makhluk ke  makhluk, karena itu tidak ada selesai, akan tetapi berpikirlah dari makhluk kepada pencipta makhluk. Nasihat ini mengandung tafsir, roda pikiran yang hanya seputar kolong jagat ini, ibaratnya seperti kuda yang diikat pada sebuah tiang. Kuda itu lari kencang berpikir telah mengerahkan tenaga dan telah berjalan jauh, ternyata hanya berputar-putar di tempat semula. Semakin kencang putarannya, kuda itu tetap saja tidak ke mana-mana. Sehebat-hebatnya kerja  dan sebrilian-briliannya pikiran kalau nasibnya seperti kuda yang diikat tadi, bagaimana yah ? Intinya jangan jadi kuda lah....... Selanjutnya, berpikirlah dari makhluk kepada pencipta, inilah jalan keluar dari segala kebuntuan yang "mengganggu" pikiran orang-orang modern. 

Tulisan ini, tentu tidak meremehkan kemampuan akal sebagai anugerah Tuhan yang luar biasa, karena Islam sendiri menganjurkan umatnya berpikir ilmiah-saintik. Yang hendak dikemukakan demi kemaslahatan, kebahagiaan manusia adalah mengakui kekuatan dan kekuasaan Tuhan di atas kehebatan akal dan pikiran manusia. Ungkapan lainnya, kehebatan sekaligus kebahagiaan manusia hanya dapat terwujud bagi mereka yang mengakui kekuasaan Allah yang tak terbatas merancang kehidupan dunia ini. Jika tidak memiliki ini, tidak percaya Tuhan telah merancang secara bijaksana atas seluruh ciptaan-Nya, tidak akan pernah mencicipi kebahagiaan hakiki yang dijanjikan oleh Tuhan sendiri dalam kitan sucinya................Selamat tinggal Sukhoi.... cerita tentangmu  semoga menghentak kesadaran dan mengantar orang kepada Tuhan yang telah menentukan kejatuhanmu di kawasan Gunung Salak, Jawa Barat, Rabu (9/5/2012)..//Zul

 


Selasa, 08 Mei 2012

Ujian Nasional: Menyaring atau Meluluskan

Kalau ingat ujian nasional (UN) agak tegang juga. Mungkin karena pengalaman menjadi peserta ujian telah beberapa kali. Meskipun semua menganjurkan tenang dan semangat, tetapi tegang tetap saja datang bersemi. Barangkali karena fokus mengingat lulus apa nggak ya? Ujian nasional memang merupakan puncak perjalanan siswa di sebuah jenjang pendidikan.

Ujian sekolah, mulai dari Ujian Nasional (UN) Ujian Akhir Sekolah (UAS) Ujian Semester, Ujian tengan semester, ulangan harian dll, adalah pekerjaan rutin yang melibatkan guru dan siswa. Selama ini kita beranggapan ujian-ujian itu bertujuan menyaring siapa yang pantas lulus dan siapa yang belum pantas. Penulis meyakini seperti itu pula. Belakangan  karena persaingan antar sekolah, menjaga prestise dan nama sekolah, guru, pengawas, kepala cabang dinas, kepala dinas,Camat, Bupati, Gubernur dst..... simpulannya demi menjaga reputasi masing-masing, begitu istilah kerennyalah. Demi menjaga kedudukan semua yang terhormat itu, ujian akhirnya dapat lebih bermakna untuk lulus. Ujian diselenggarakan hampir bukan lagi untuk menyaring siapa lulus dan siapa tidak lulus, tetapi lebih dekat kepada makna meluluskan siswa atau peserta ujian. Indikatornya seperti sering dikeluhkan bahwa guru sekarang terlibat jauh sebagai peserta ujian (baca: membantu menjawabkan soal-oal ujian) peserta didiknya. Maksudnya, ya itu tadi demi reputasi guru, sekolah, nilai sekolah dll di hadapan atasan dan di mata lingkungan sekolah. Betapa malu, kalau siswa kita  lebih banyak yang tidak lulus daripada yang lulus.........begitu kira-kira keluhannya.

Maka ujian  sebenarnya bukan sekedar meluluskan siswa, melainkan ia juga mempertaruhkan pekerjaan yang telah dilakukan guru-guru dan pihak sekolah selama satu tahun. Ini dipahami demikian mengingat ketidaklulusan siswa-siswi dapat berarti kegagalan kerja sebuah lembaga pendidikan.  Sebaliknya jika 100 % kelulusan, maka banyak yang bertepuk tangan gembira, dari siswa peserta ujian sampai ke pada gubernur ikut bangga dengan prestasi anak didik di daerah. Luar biasa prestasi pemimpin ini, kepala ini, kepala itu dll.

 Adapun siswa apakah benar-benar lulus itu urusan lain.Maksudnya siswa benar telah memahami plus menguasai bahan ajar, bukan perkara utama. Lulus dulu, itu yang penting. Karena harus lulus, guru akhirnya terpaksa atau mungkin juga dipaksa oleh pihak tertentu, dalam proses ujian. Modelnya tentu macam-macam, mulai bantuan langsung saat ujian, bantuan lewat pengawas, mendongkrak nilai dari semestinya, dll yang merupakan pelanggaran dalam penyelenggaraan ujian nasional. Maka judul posting kali ini, ujian sekolah: untuk menyaring siswa yang lulus dan siswa yang gagal atau  memang bermaksud untuk meluluskan, pantas diangkat sebagai tema diskusi berbagai forum lembaga kependidikan.Point pertama, jika ujian diselenggarakan untuk menyaring itu artinya harus bekerja secara jujur, sporti dan bertanggung jawab sehingga tidak perlu membantu siswa. Biarkanlah ujian berjalan secara alami, demi mencari kualitas yang obyektif. Cara ini resikonya lumayan besar, lantaran ketidaklulusan mungkin lebih besar jumlahnya, atau paling tidak, kita tidak mendengar bahwa sebagian besar sekolah 100 % kelulusannya. Selain itu, jika point kedua dipilih, yakni bahwa ujian sebenarnya lebih bertujuan untuk meluluskan siswa, maka bisa jadi inilah fenomena-fenomena lembaga pendidikan secara umum, sehingga pelanggaran demi pelanggaran dalam ujian sering terjadi. Dua pilihan di atas adalah tanggung jawab kita semua, terutama lembaga-lembaga yang bergerak di lembaga kependidikan. Jika anda pembaca berprofesi sebagai guru, orang tua, masyarakat umumnya, mana yang anda pilih? Saya tunggu komentarnya.............Okey.//Zul