Sabtu, 11 Agustus 2012

Renungan & Nasihat seputar Perbedaan Awal Ramdhan dan penetapan Hari Raya

Banyak kalangan telah menerima perbedaan soal awal Ramadhan dan  hari raya idul Fitri/Idul Adha selama beberapa tahun terakhir. Bahkan perbedaan tersebut hampir telah menjadi syariat tersendiri yang harus ditanamkan dalam diri umat. Padahal sebenarnya dengan menggunakan analisa dan ijtihad apapun, sesungguhnya setiap kita pasti sangat menginginkan tidak lagi terjadi perbedaan itu. Dengan dalih  dan dalil apa saja, dengan alat  hitung atau alat rukyat canggih atau kurang canggih, sesungguhnya umat ini sangat merindukan penyatuan awal puasa dan penetapan hari raya. 

Saat menulis posting ini, hari raya idul fitri 1433 H kurang lebih satu pekan lagi. Di mana-mana telah ramai dibincangkan; hari raya kali ini tidak ada perbedaan, ada pula yang masih membuka kemungkinan terjadinya perbedaan. Saya sendiri kadang merenung, apa sesungguhnya yang mengharuskan kita berbeda? Tidak adakah cara yang kita tempuh atau sudah tertutupkah kemungkinan untuk tidak mengulangi kembali perbedaan tersebut? Menjawap dua pertanyaan di atas tentu jawaban saya dengan anda pembaca mungkin saja berbeda. Kali ini coba saya akan mancari jawaban, kiranya dapat menjadi renungan. Jawaban ini, bukan menghakimi pendapat yang telah berkembang, bukan pula memihak ormas tertentu. Semata-mata uraian ini coba secara jernih

Menjawab dua sekaligus pertanyaan di muka: Benda-benda langitkah yang berotasi itu, alat hitung dan alat rukyahkah, tingkat ilmu pengetahuan dan  wawasan dan pengalaman  berbedakah dan lain-lain yang tidak perlu disebut satu persatu. Hemat saya seluruhnya bukan itu semua. Bukan karena hitungan derajat, bukan pula rukyatul hilal termasuk bukan pula karena perbedaan ilmu dan pengetahuan antar pribadi dan antar ormas. Sekali lagi bukan. Dan, memang Allah swt, membekali dengan pengetahuan-pengetahuan mengenai semua  itu bukan untuk dibenturkan dalam percaturan pendapat serta ijtihad orang perorang atau  ormas. Sesungguhnya, sekali lagi sesungguhnya sebab utama dan pertama perbedaan itu, adalah karena di hati kita memang sudah tertanam embrio perbedaan yang lebih dekat kepada  sikap lebih mengunggulkan pribadi, pendapat, ormas, kelompok dll. Dan sikap ini, sebenarnya bukan gejala persatuan demi kemaslahatan atau rahmat, seperti sebagian orang berkata bahwa perbedaan adalah rahmat. Sikap tersebut merupakan sebagian dari bisikan ananiyah syaithoniyah yang semestinya  tidak bersemi di dalam  hati seorang mukmin yang mukhlish

Kita dapat berbeda dalam hitung-hitungan, dapat pula berbeda pada kecanggihan alat rukyat atau mungkin kitab-kitab yang kita pedomani berbeda. Namun demikian, meskipun kita berbedan dengang semua itu, kita masih sangat mungkin mempersatukan perbedaan itu dalam sikap dan tindakan. Dengan ungkapan sederhana, jika si M bersikukuh menetapkan angka 1,  misalnya, sedangkan si N berpendapat  ¼ (seperempat),  yang tidak dapat ditawar karena itulah hasil ijtihad masing-masing dengan biaya besar, sekali lagi misalnya.  Maka demi persatuan dan kemaslahatan umat, dan itu sangat dianjurkan al-quran dan hadis nabi Muhammad saw,  kita dapat menyikapi perbedaan itu dengan sikap kita bersepakat pada angka  ½  (setengah). Itu sangat bisa, karena sikap kita merupakan  cerminan dari ilmu dan kebijakan  serta kearifan  bersikap demi sesuatu yang lebih besar nilai maslahatnya. Dengan kata lain, kita berbeda selama ini, bukan karena gejala alam, atau karena hasil ijtihad, ilmu dan pengetahuan, tapi gejala hati dan keikhlasan sedang defisit. Jika anda telah menetapkan putih sedangkan saya memutuskannya hitam,  misalnya, maka demi kemaslahatan sebagai spirit sosiolgis Islam yang kita imani, apa yang salah atau siapa yang sanggup mempersalahkan jika kita mau bersepakat dalam warna buram/antara putih dan hitam. Tegasnya, ika Ormas Muhammadiyah telah menetapkan hari idul fitri, sedangkan Ormas NU menetapkan sebelum atau sesudahnya atau sebaliknya, hanya perbedaan dalam hitungan derajat, mengapa kita harus berbeda. 

Sekali lagi hanya beda beberapa derajat posisi bulan, sesungguhnya dengan sikap ikhlas demi persatuan yang pasti membawa maslahat besar, pasti kita dapat menetapkan satu waktu dalam hitungan-hitungan derajat itu. Tapi ya, itu tadi, dibutuhkan iman dan jiwa yang arif, bijaksana, ikhlas  dan sifat-sifat mahmudah lainnya, yang kita akui telah bersemi dalam diri. Dengan sikap tasamuh seperti itulah memang menunjukkan bahwa sifat-sifat mahmudah itu telah terpatri dalam diri.//Zul

Rabu, 08 Agustus 2012

Renungan Ramadhan 1433 H

Jika puasa bermakna menahan atau mengendalikan  yaitu imsak, maka sebenarnya seluruh ajaran Islam yang bersifat perintah maupun larangan mengandung makna puasa. Dengan kata lain, berpuasa adalah intisari dan perkara substantif dalam Islam. Shalat misalnya,  tanpa kemampuan mengendalikan diri dan menahan diri dari hal-hal yang mengurangi kesempurnaan shalat, niscaya shalat kita tidak  ditunaikan secara sempurna. Samajuga jenis perintah lainnya, ia butuh puasa.

Dalam  meninggalkan larangan, demikian pula, bahkan  lebih kelihatan nilai puasa yang harus dilakukan.  Oleh karena itu, siapa saja yang mampu berpuasa dengan benar,dapat lebih dijamin  bahwa ia akan lebih mampu mengerjakan ibada-ibadah lainnya. Dari sini diketahui betapa ajaran puasa merupakan simpul-simpul besar dalam mengartikulasikan Ajaran Islam.

Selasa, 07 Agustus 2012

SUNGAI TAPARIA: Keindahan Alami yang Patut Dijaga



Mandi bersama di Sungai Taparia bersama dengan  siswa/i MIN Botteng
Suasana sungai Taparia Tapalang memang berbeda dengan tempat lain. Pinggiran sungai mengalir, bunyi khas arus air pelan berpadu dengan suasana alami pedesaan, benar-benar memberi suasana lain yang menenteramkan. Teman-teman yang sempat berkunjung dan duduk ditempat saya menuliskan posting ini, juga mengakui keindahan, suasana tenang pemandangan di sini. Selain itu, saat matahari menjelang siang, kita cukup mengayayuhkan langkah 2-5 menit, telah dapat menikmati dingin dan sejuknya air sungai Taparia ini. 

Sungai Taparia dilihat dari atas Jembatan
Ketika berkhayal menuangkan buah pikiran tentang sungai yang terletak di Taparia -orang tua setempat menyebut Saringan- desa Tampalang kec. Tapalang, kab Mamuju ini, pikiran penulis membayangkan 10, 20 sampai 50 tahun akan datang. Terbayang dipelupuk mata, sungai yang hambar, gersang, penuh sampah dan kotoran manusia, sebagaimana pemandangan sungai-sungai di kota-kota besar sekarang.  Sekitar 13 tahun silam di Jakarta, saya pernah tinggal selama satu semester tepatnya tahun 1999. Tahun 2001-2002 juga pernah tinggal di Kota Surabaya. Terakhir ketika menyelesaikan kuliah strata 2 di UIN Alauddin Makassar dari tahun 2009-2011, dua tahun menghirup udara kota Makassar dengan segala hiruk-pikuknya. Pengalaman tinggal di kota-kota tersebutlah yang menggiring pikiran saya, membayangkan Sungai Taparia.

Sesungguhnya kota tanpa sungai sebenarnya lebih membosankan dibandingkan dengan penataan sungai yang tertata rapi di sebuah kota. Sungai Nil misalnya, yang bersejarah di Kota Mesir cukup menjadi saksi, pernyataan penulis, atau kota-kota lain yang memiliki sungai dan aliran air yang sangat menawan. Secara menyeluruh potensi sungai di provinsi Sulawesi Barat sangat banyak jumlahnya. Kec. Tapalang saja dengan jarak 30 km dari Kota Mamuju, terdapat beberapa aliran sungai yang memotong jalan trans Sulawesi. Jika hari ini sungai-sungai itu dibiarkan pemerintah, ditambah masyarakatnya ikut masa bodoh  dengan kebersihan dan masa depan sungai-sungai ini, dapat dipastikan sungai-sungai itu akan bernasib sama dengan kota lain.

Rancangan dan penataan kota dengan sungai terpelihara, tertata indah lagi bersih,  sedini mungkin seharusnya telah dipikirkan oleh pemerintah setempat. Pengerukan sungai agar aliran air lancer dan pembangunan bantaran sungai ketika luapan banjir membahayakan penduduk setempat, telah dilakukan. Sudah bagus, dan memang kewajiban dan tanggung jawab pemerintah sekalipun sifatnya sementara, nampaknya. Namun, masa depan yang panjang dengan penataan Sungai dalam kota, harusnya lebih diprioritaskan demi keindahan dan jangka panjang. Hal ini dikemukakan, lantaran Sungai bersih, jernih, indah bukan hanya dinikmati generasi sekarang, tetapi untuk semua generasi yang mendiami kota Mamuju. 

Kembali ke seputar sungai Taparia ini, ketika pertama kali saya melihat, mandi dan menikmati pemandangannya yang asli tahun 2008, sudah sangat jauh berbeda dengan sekarang. Tahun itu, maksudnya tahun 2008, hanya mengalihkan pandangan beberapa menit ke arah sungai, kita dapat melihat beragam jenis ikan berenang berkejaran, layaknya aquarium besar. Adapun sekarang, berjam-jam menunggu mencari ikan berenang sudah sangat langka. 

Mengakhiri tulisan ini, kita berharap pemerintah memperhatikan perkembangan sungai-sungai di Mamuju demi keindahan dan penataan kota.//Zul…

Rhoma Irama dan Pilkada

Saya termasuk pengagum si raja dangdut ini. Seperti juga yang lain, lirik dan nada musiknya mampu memikat sebagian besar masyarakat. Lebih khusus, buat saya, Rhoma dalam sebagian besar lagunya banyak memuat dakwah Islam. Sekalipun tidak dinafikan banyak juga filmnya yang sebenarnya kurang cocok dengan dakwahnya dalam lirik-liriknya. Itulah barangkali pribadi seorang Rhoma Irama. Namun sekali lagi, dan saya sangat yakin, di usia yang semakin menua, Rhoma pasti semakin bijak dan makin sadar hidup harusnya seperti apa sesunggguhnya sehingga secara 'tidak sengaja' harus berurusan dengan panwaslu DKI. Jakarta.

Ceramah Islam a la Rhoma dan versi Rhoma dalam menggagas Pilkada jakarta sungguh dapat menjadi wacana penting bangi bangsa ini. Jika saja, Rhoma Irama dinyatakan melanggar dengan ceramahnay di dalam masjid itu, yang secara mudah menyeret issue SARA, maka secara jujur terlalu banyak hal yang dapat dijadikan issue SARA di negeri ini. 

 Jika memang itu dianggap melanggar, menurut saya, kenapa baru sekarang. Dari dulu setiap menjelang pilkada kita sering mendengar issue yang sama, tetapi tidak dipersoalkan. Apatah lagi tidak menjelang Pilkada. Bagi non Islam, saya percaya dalam komunitasnya, akan berpikir  dan berbicara seperti Bang haji Rhoma. Persoalan ceramah Islamiyah Rhoma sampai masuk ke wilayah Panwaslu, sesungguhnya bukan Ceramahnya yang sensitif, tetapi issue kemenangan dan kekalahan capillah yang sangat sensitif, sehingga segalanya ikut menjadi sensitif. 

Kearifan memahami ini harus didahulukan, karena bukan tidak mungkin ke depan akan semakin sensitif urusan seperti ini, sehingga sedikit-sedikit SARA lagi. Wilayah tafsir apakah termasuk issue SARA atau tidak, sangat debatable dan, kecenderungan, ideologi, pandangan atau keyakinan-keyakinan sang penafsir sangat menentukan hasil interpretasi. Maka para perumus UU harus duduk lagi, kembali menyepakati batasan-batasan issue SARA dan bukan SARA. Ndak apa-apa khan. Batas-batas itulah nanti akan menjadi tolak ukur kita semua. Ok.//Zulkifli



Jumat, 18 Mei 2012

Berdoalah

Banyak orang yang sombong dengan mengandalkan kemampuan diri. Tidak menyadari selain keampuhan diri, terdapat Zat yang memberikan keampuhan itu. Kesombongan itu hingga sampai puncak hingga mengeliminir keberadaan Tuhan. Tuhan baginya seperti daun pisang. Saat hujan turun, dia membutuhkan daun pisang sebagai payung darurat, hujan berhenti, daun pisangpun dibuang. Ibarat ini seperti orang yang menghadap Tuhan, merendah di hadapan Tuhan, berdoa kepada Tuhan dengan ratap tangis saat hidupnya dirundung duka dan musibah. Ketika kehidupannya lapang, memperoleh rezeki dan bahagia, Tuhan dilupakan. Fungsi Tuhan sudah tidak ada dalam perjalanan hidupnya.

Berdoa sebenarnya kebutuhan bagi kekuatan jiwa seorang mukmin, waktu senang, lebih-lebih  saat sengsara. Saat diberi kemampuan berdoa, saat itu pula diberi kekuatan jiwa. Dan, kekuatan satu ini, di atas dari kekuatan materi. Mereka yang rajin berdoa, dipastikan lebih memiliki kekuatan. Hebatnya kekuatan ini, bukan tidak dapat berkumpul dengan kekuatan-kekuatan lain yang dimiliki. Maksudnya, meski telah memiliki kekuatan material, dengan berdoa justru kekuatan materi mendapatan sokongan dan penyangga.

Allah swt  dalam sekian banyak ayatnya dan hadis nabi saw. secara tegas menyatakan, siapapun yang meminta kepada-Nya, akan diberi. Allah swt sendiri menghitung doa dan pekerjaan hamba-Nya sebagai ibadah. Jika seperti itu nilai berdoa, mengapa ada orang yang enggan berdoa kepada-Nya. Ini dapat dipahami saking tidak mengertinya soal Allah swt dan berdoa. Doa dalam kamu bahasa Indonesia adalah permohonan (harapan, pujian) kpd Tuhan. Oleh karena itu, dalam bentuk lisan, suara hati, dengan tulisan, niat, perbuatan yang ditujukan memohon dan memuji Allah, disebut berdoa. Ungkapan lainnya seperti ditulis oleh ulama, doa itu terbagi dua: doa dalam arti meminta dan doa dalam arti ibadah. Ketika mendrikan shalat kedua penertian doa itu telah terangkum di dalamnya. 

Zaman ini dilingkupi oleh kekuatan paham dan keyakinan materialisme. Sampai-sampai seorang mukmin sekedar berdoa untuk melaksanakan aktivitas ringanpun, enggan berdoa. Saat mulai makan, minum, tidur, keluar rumah, memakai baju,masuk WC dll, seluruhnya satu paket dengan doa dalam paradigma kenabian. Inilah kelebihan dan kekuatan seorang mukmin lantaran seluruh aktifitasnya selalu diiringi doa. 

Apa pengaruh doa bagi kehidupan? Untuk menjawab berikut ini saya kutipkan hasil penelitian tentang pengaruh doa/bacaan doa untuk segelas air: molekul air yang dibacakan doa islami, air membentuk hexagonal sempurna dibandingkan saat diperdengarkan lagu atau suara lain. Molekul air dalam hexagonal (berbentuk segi enam) inilah molekul air yang paling baik dan sempurna, yang sangat dibutuhkan tubuh manusia.//Zul


Kamis, 10 Mei 2012

Sukhoi: Menggedor Kesadaran Kita

Sukhoi, Sukhoi dan Sukhoi lagi. Pesawat Sukhoi Super Jet 100 yang hilang di wilayah Cidahu, Sukabumi itu menjadi perbincangan banyak orang, secara khusus orang yang memiliki keahlian di dalamnya. Sangat mungkin, jika anda pembaca menambahkan komentar-komentar itu berbeda karena beda paradigma dan analisis yang dipakai. Oleh karena itu silahkan para ahli menerangkan sabab-musabanya, kenapanya, mengapanya, ada apanya dan  pertanyaan selidik lain, karena memang harus mencari jawaban yang rasional dan obyektif demi kepuasan akal dan pikiran.  Pembaca yang masih menyisakan Tuhan dalam kesibukan sehari-hari, mari mendoakan seluruh korban pesawat buatan Rusia ini, semoga Yang Maha Kuasa memberi ampunan atas segala dosa dan membalas berlipat ganda atas segala kebajikan yang telah ditinggalkan. Kemudian semoga keluarga yang ditinggal sabar dan tabah karena semua ini pelajaran pelajaran hidup. Seorangpun tidak ada yang bertahan awet menempati kolong jagat raya ini. 

Masih berkaitan dengan musibah pesawat Sukhoi ini, apakah ada kaitannya dengan malakul maut?. Itu pasti. Malakun itu adalah malaikat, bentuk jamak dari Malaikat yang sudah lumrah di telinga kita. sedangkan maut adalah kematian. Malakul maut berarti Malaikat yang ditugasi oleh Allah swt mencabut nyawa makhluk. Dalam pandangan teologis-ketuhanan jawabannya terlalu sederhana, sekalipun tidak mengandung tafsir meremehkan dan menganggap enteng. Dalam paradigma kebertuhanan, semua telah menjadi ketetapan, ditakdirkan Tuhan sebelumnya. Cara dan sebab boleh berbeda-beda, namun pintunya hanya satu, yaitu kematian. Pandangan dan keyakinan seperti ini, mungkin pembaca anggap kuno, ketinggalan zaman, terlalu ektrim, militan atau bahasa yang lain-lain, tetapi dibalik semua itu, sesungguhnya pandangan dan keyakinan ini teramat modern, kosmopolit dan merupakan terapi paling jitu orang yang dilanda musibah. Jika dalam pikiran tidak ada sedikitpun pikiran dan pandangan ideologis ketuhanan seperti ini, lambat laun pasti akan membahayakan diri sendiri. Ndak percaya silahkan buktikan................!

Ibnu Athaillah dalam Al-Hikamnya, La tarhal minal kawni ilal kawni, walakinirhal minal kawni ilal mukawwin terjemahan bebasnya : janganlah kamu berpikir dari makhluk ke  makhluk, karena itu tidak ada selesai, akan tetapi berpikirlah dari makhluk kepada pencipta makhluk. Nasihat ini mengandung tafsir, roda pikiran yang hanya seputar kolong jagat ini, ibaratnya seperti kuda yang diikat pada sebuah tiang. Kuda itu lari kencang berpikir telah mengerahkan tenaga dan telah berjalan jauh, ternyata hanya berputar-putar di tempat semula. Semakin kencang putarannya, kuda itu tetap saja tidak ke mana-mana. Sehebat-hebatnya kerja  dan sebrilian-briliannya pikiran kalau nasibnya seperti kuda yang diikat tadi, bagaimana yah ? Intinya jangan jadi kuda lah....... Selanjutnya, berpikirlah dari makhluk kepada pencipta, inilah jalan keluar dari segala kebuntuan yang "mengganggu" pikiran orang-orang modern. 

Tulisan ini, tentu tidak meremehkan kemampuan akal sebagai anugerah Tuhan yang luar biasa, karena Islam sendiri menganjurkan umatnya berpikir ilmiah-saintik. Yang hendak dikemukakan demi kemaslahatan, kebahagiaan manusia adalah mengakui kekuatan dan kekuasaan Tuhan di atas kehebatan akal dan pikiran manusia. Ungkapan lainnya, kehebatan sekaligus kebahagiaan manusia hanya dapat terwujud bagi mereka yang mengakui kekuasaan Allah yang tak terbatas merancang kehidupan dunia ini. Jika tidak memiliki ini, tidak percaya Tuhan telah merancang secara bijaksana atas seluruh ciptaan-Nya, tidak akan pernah mencicipi kebahagiaan hakiki yang dijanjikan oleh Tuhan sendiri dalam kitan sucinya................Selamat tinggal Sukhoi.... cerita tentangmu  semoga menghentak kesadaran dan mengantar orang kepada Tuhan yang telah menentukan kejatuhanmu di kawasan Gunung Salak, Jawa Barat, Rabu (9/5/2012)..//Zul

 


Selasa, 08 Mei 2012

Ujian Nasional: Menyaring atau Meluluskan

Kalau ingat ujian nasional (UN) agak tegang juga. Mungkin karena pengalaman menjadi peserta ujian telah beberapa kali. Meskipun semua menganjurkan tenang dan semangat, tetapi tegang tetap saja datang bersemi. Barangkali karena fokus mengingat lulus apa nggak ya? Ujian nasional memang merupakan puncak perjalanan siswa di sebuah jenjang pendidikan.

Ujian sekolah, mulai dari Ujian Nasional (UN) Ujian Akhir Sekolah (UAS) Ujian Semester, Ujian tengan semester, ulangan harian dll, adalah pekerjaan rutin yang melibatkan guru dan siswa. Selama ini kita beranggapan ujian-ujian itu bertujuan menyaring siapa yang pantas lulus dan siapa yang belum pantas. Penulis meyakini seperti itu pula. Belakangan  karena persaingan antar sekolah, menjaga prestise dan nama sekolah, guru, pengawas, kepala cabang dinas, kepala dinas,Camat, Bupati, Gubernur dst..... simpulannya demi menjaga reputasi masing-masing, begitu istilah kerennyalah. Demi menjaga kedudukan semua yang terhormat itu, ujian akhirnya dapat lebih bermakna untuk lulus. Ujian diselenggarakan hampir bukan lagi untuk menyaring siapa lulus dan siapa tidak lulus, tetapi lebih dekat kepada makna meluluskan siswa atau peserta ujian. Indikatornya seperti sering dikeluhkan bahwa guru sekarang terlibat jauh sebagai peserta ujian (baca: membantu menjawabkan soal-oal ujian) peserta didiknya. Maksudnya, ya itu tadi demi reputasi guru, sekolah, nilai sekolah dll di hadapan atasan dan di mata lingkungan sekolah. Betapa malu, kalau siswa kita  lebih banyak yang tidak lulus daripada yang lulus.........begitu kira-kira keluhannya.

Maka ujian  sebenarnya bukan sekedar meluluskan siswa, melainkan ia juga mempertaruhkan pekerjaan yang telah dilakukan guru-guru dan pihak sekolah selama satu tahun. Ini dipahami demikian mengingat ketidaklulusan siswa-siswi dapat berarti kegagalan kerja sebuah lembaga pendidikan.  Sebaliknya jika 100 % kelulusan, maka banyak yang bertepuk tangan gembira, dari siswa peserta ujian sampai ke pada gubernur ikut bangga dengan prestasi anak didik di daerah. Luar biasa prestasi pemimpin ini, kepala ini, kepala itu dll.

 Adapun siswa apakah benar-benar lulus itu urusan lain.Maksudnya siswa benar telah memahami plus menguasai bahan ajar, bukan perkara utama. Lulus dulu, itu yang penting. Karena harus lulus, guru akhirnya terpaksa atau mungkin juga dipaksa oleh pihak tertentu, dalam proses ujian. Modelnya tentu macam-macam, mulai bantuan langsung saat ujian, bantuan lewat pengawas, mendongkrak nilai dari semestinya, dll yang merupakan pelanggaran dalam penyelenggaraan ujian nasional. Maka judul posting kali ini, ujian sekolah: untuk menyaring siswa yang lulus dan siswa yang gagal atau  memang bermaksud untuk meluluskan, pantas diangkat sebagai tema diskusi berbagai forum lembaga kependidikan.Point pertama, jika ujian diselenggarakan untuk menyaring itu artinya harus bekerja secara jujur, sporti dan bertanggung jawab sehingga tidak perlu membantu siswa. Biarkanlah ujian berjalan secara alami, demi mencari kualitas yang obyektif. Cara ini resikonya lumayan besar, lantaran ketidaklulusan mungkin lebih besar jumlahnya, atau paling tidak, kita tidak mendengar bahwa sebagian besar sekolah 100 % kelulusannya. Selain itu, jika point kedua dipilih, yakni bahwa ujian sebenarnya lebih bertujuan untuk meluluskan siswa, maka bisa jadi inilah fenomena-fenomena lembaga pendidikan secara umum, sehingga pelanggaran demi pelanggaran dalam ujian sering terjadi. Dua pilihan di atas adalah tanggung jawab kita semua, terutama lembaga-lembaga yang bergerak di lembaga kependidikan. Jika anda pembaca berprofesi sebagai guru, orang tua, masyarakat umumnya, mana yang anda pilih? Saya tunggu komentarnya.............Okey.//Zul