Rabu, 12 September 2012

RAHMAT ALLAH SWT: Berharap atau Berangan-angan

Pagi hari ini, Selasa (11/08/2012) sesudah shubuh di Masjid,  saya coba membaca kitab ringkasan Ihya' Ulumiddin "MAUIZATULMUKMININ Min IHYA ULUMIDDIN, tulisan Syaikh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, setelah sekian lama tidak pernah menyentuhnya. Dan coba saya share dengan teman-teman, siapa tahu di sana ditemukan terapi bagi hati yang galau, atau perkara ini masih samar. Biasanya, saat jiwa gersang, saya sendiri menelaah kitab ini meskipun di sela waktu senggang.

Membaca kitab ini,  bukan karena kagum akan kandungan tasaufnya, bukan pula karena kehebatan uraian yang filosofis semata, tetapi saya mencari pelepas dahaga dan pemuas jiwa dalam era dunia semakin canggih ini. Era yang benar-benar telah menawarkan berbagai fasilitas material yang serba wah dan praktis, namun tidak memiliki saham spiritualitas yang merupakan kebutuhan asasi manusia modern. Contoh sederhana, hari ini, tidak bisa tidak, kita butuh hp, rice cooker, kulkas, setrika, mobil, pesawat dll yang tidak disebut satu persatu di sini. Betapa kesulitan demi kesulitan yang dihadapi tanpa alat-alat canggih itu semua, terutama yang telah memiliki ketegantungan kepada hasil teknologi canggih.

Tetapi sesungguhnya, umat manusia dua kali atau bahkan berlipat-lipat kebutuhannya kepada hikmah dan kearifan spiritualitas. Jika tidak berimbang, maksudnya antara kebutuhan materi dan kebutuhan ruhani, manusia modern akan oleng. Manusia modern hanya mampu dan bangga dengan fasilitas modern materialistis, tapi jiwa kosong dari petunjuk hidup. Penampilannya hebat, trendy, diagungkan, tapi hati dan jiwa kering, jiwanya kering dan resah. Mereka mencari bahagia ke segala arah, tapi tak kunjung ditemukan, karena kebutuhan jiwa tidak terdapat dalam tumpukan materi, bukan pada uang berlipat-lipat, jabatan yang disanjung, kemasyhuran yang membanggakan. Sekali lagi, kebutuhan jiwa tidak terletak di dalam itu semua. Andaikata hati dan jiwa cukup terpuaskan dengan tumpukan materi, Allah swt tidak perlu mengutus rasul dan tidak perlu menurunkan wahyu.

Agar tidak panjang lebar pengantarnya, akan saya terjemahkan secara bebas sebagian dari isi kitab yang dimaksud di atas. Ok:

Pejelasan tentang kesalahan menyangka berharap padahal angan-angan. Sedikit info bahwa perbedaan antara berharap (raja') dan angan- angan (tamanni) dalam penggunaannya. Raja' adalah harapan yang secara rasional mungkin tercapai, sedangkan tamanni adalah harapan yang secara logis tidak mungkin tercapai. Misalnya, seseorang berharap mempunyai anak tetapi tidak menikah, itu mustahil terjadi. Inilah yang disebut tamanni. Sebaliknya, mengharap mempunyai anak lalu berusaha menikah atau telah menikah, inilah yang disebut Raja' (harapan).

Nah..... jika ada pertanyaan, di mana letak kesalahan ucapan pendosa dan suka  bermaksiyat, bahwa ia kan tetap berharap  ampunan dan permaafan dari Allah, karena Allah Maha pengampun. Apalagi Nabi saw bersabda  bahwa Allah telah berfirman: "Aku  adalah sebagaimana persangkaan hambaku kepadaku"?

Menjawab pertanyaah di atas, nabi saw memberi penjelasan seperti sabdanya:
 "Orang yang cerdas adalah yang mengevaluasi/menginstrospeksi diri dan beramal untuk bekal setelah mati. Sedangkan orang bodoh (ahmaq) adalah orang yang mengikuti hawa nafsu lalu berangan-angan (tamanni) memperoleh ampunan dari Allah".

Sungguh jauh perbedaan di antara raja' dan tamanni,tetapi bagi yang terbatas pemahamannya akan mempersamakan keduanya.

Hadis nabi saw di atas, menerangkan angan-angan (tamanni) di hadapan Allah swt yang disulap oleh setan seakan-akan berharap (raja') dalam rangka menipu orang yang terbatas ilmunya (bodoh). Adapun berharap (raja') atau berharap diterangkan Allah dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan mereka berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat (kasih sayang) Allah". (Al-Baqarah: 218)

Maksudnya, bahwa berharap atau raja' lebih layak dan pantas bagi mereka.

Sebagai penjelasan logis dan sederhana perumpamaan di bawah ini, mari kita renungkan. Jika seseorang menyuruh memperbaiki bejana dengan imbalan upah tertentu. Sementara orang yang memberi syarat tadi seorang yang terkenal dermawan, baik hati, tidak pernah mengingkari janji. Bahkan terkadang melebihkan  upah sebagai bukti pemurahnya. Tiba-tiba yang bekerja tadi datang meminta upah sedang bejana yang mestinya diperbaiki justru dipecahkan dan dirusak. Setelah itu menghadap dengan iba meminta upah karena yakin dengan kepemurahan dan belas kasih bos yang menyuruhnya. Apakah orang berakal mengira perbuatan si pekerja tadi berharap (raja')  atau angan-angan (tamanni) ? Pasti kita sepakat, perbuatan si pekerja adalah angan-angan belaka, yang tidak mungkin memperoleh upah dan belas kasih tuannya. 

Ringkasnya, siapa saja yang mengharapkan sesuatu, pasti ia mengejarnya. Sebaliknya, siapa saja yang takut terhadap sesuatu, pasti ia menjauh. Demikian pula, siapa yang mengharap rahmat Allah, sedang ia tidak melakukan kebajikan dan tidak meninggalkan perbuatan maksiyat, inilah yang disebut angan-angan (taamanni).  Demikian tulis Imam Al-Gazali.

Sekalipun kitab  ini menjadi perdebatan dan diskusi sebagian Ulama tentang keabsahan sebagian isinya, terutama status hadis-hadis yang digunakan, namun saya merasakan setiap menelaah kitab ini tetap berdecak kagum akan untaian hikmah yang berserakan di lembar demi lembar. Sebagian pencari ilmu, menulis bahwa kitab Imam Al-Gazali ini, adalah kitab Tasauf, tetapi isinya juga sangat filosofis. entahlah mana yang lebih menonjol, itu urusan orang khusus mendalaminya.

 Disadur dari Mauizatul Mukminin, bab tercelanya tertipu.//Zul...Botteng, Kamis 13/09/2012

Minggu, 09 September 2012

RPP BERKARAKTER, GURU TIDAK

Posting ini coba mengurai soal karakter berkaitan dengan kurikulum berkarakter. Saya dan teman-teman yang telah resmi menjadi guru atau calon guru, ditugasi membuat RPP berkarakter. Dipastikan RPP itu harus diajarkan, dibimbingkan, dibiasakan selama proses pembelajaran berlangsung dan sesudah pembelajaran. RPP berkarakter itu, tidak dituliskan di atas kertas semata dan hanya menjadi kebutuhan pemeriksaan atasan. RPP berkarakter itu, diharapkan mampu menanam karakter dalam diri anak didik.

Sekedar membuat atau mengcopy paste RPP berkarakter, tidaklah terlalu sulit. Hemat saya, yang agak sulit  sebenarnya adalah si guru mendidik diri dan memiliki karakter dahulu.  Ya, memang seperti itulah konsepnya. Sebab tentu menggelikan, kalau-kalau RPPnya berkarakter sementara gurunya tidak berkarakter. Jika seorang guru harus menanamkan karakter jujur, misalnya, sementara guru tersebut tidak jujur, terus bagaimana jadinya. Contoh lain, jika guru harus menanamkan karakter akhlak mulia, sementara gurunya masih harus berkelahi dengan diri sendiri dan bergulat membenahi karakternya dan akhlaknya, maka seperti apa si guru akan mengajar dan membimbingkan karakter. Lebih kongkrit, guru hanya dapat mengajarkan dan mendidik anak berkarakter jika guru mempunyai karakter. Logikanya, jika engkau tidak memiliki sesuatu, mana mungkin akan akan memberikan sesuatu kepada orang lain. Dalam pendidikan karakter juga demikian.

Pendidikan karakter merupakan hal yang baru sekarang ini meskipun bukan sesuatu yang baru. Penanaman nilai-nilai  sebuah karakteristik sudah berlangsung dahulu kala. Akan tetapi, seiring dengan perubahan jaman, agaknya menuntut adanya penanaman kembali nilai-nilai tersebut ke dalam sebuah wadah kegiatan pendidikan di setiap pengajaran.
Penanaman nilai-nilai tersebut dimasukkan (embeded) ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran dengan maksud agar dapat tercapai sebuah karakter yang selama ini semakin memudar. Setiap mata palajaran mempunyai nilai-nilai tersendiri yang akan ditanamkan dalam diri anak didik. Hal inidisebabkan oleh adanya keutamaan fokus dari tiap mapel yang tentunya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.

Terus apa pengertian karakter? Karakter (kamus Poerwadarminta) diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, ataupun budi pekerti.
Imam Ghazali menuturkan bahwa akhlaq adalah segala sesuatu yang muncul secara spontan tanpa pemikiran mendalam.

Jika demikian definisi karakter dan itu harus di masukkan ke dalam pembelajaran di kelas, sepertinya dan memang harus, guru merupakan idola bagi pengembangan karakter anak didik yang sangat ideal. Jangan sampai guru sendiri melukai Kurikulum berkarakter atau RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) berkarakternya tereduksi/terkurangi oleh prilaku guru yang melanggar karakter melalui sikap dan prilaku atau dengan ucapan-ucapan. Sindiran, Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, diharapkan tidak terjadi dengan adanya kurikulum berkarakter. Semoga. //Botteng, 10 Agustus 2012*Zul..... 


DA'I DAN KEKUATAN RUHIYAH

Menjadi da'i memang tidak mudah. Bukan semata-mata lantaran harus menguasai ilmu agama dan umum. Bukan itu. Bukan pula karena mereka dituntut pintar ceramah dengan berbagai modal ilmu retorika yang pelik dicerna apatah lagi dipraktekkan.

Hemat saya, beratnya terletak pada tanggung jawab spiritual. Penjelasannya seperti ini: Seorang da'i adalah orang yang mengajak orang lain ke arah Tuhan, mengajar dan membimbing umat ke jalan Tuhan dan agar semakin dekat kepada Tuhan. Nah..... Ini masalahnya. Jika seorang da'i justru jauh dan melanggar ketentuan syariat, terus ceramah dan pidatonya berfungsi seperti apa? Da'i idealnya merapat kepada Tuhan, atau paling tidak menyadari keberadaan Tuhan. Itu bab pertama.

Selanjutnya mengajak umat mendekat Tuhan. Tapi bayangkan jika sebaliknya yang terjadi. Kekuatan ruhiyah,   disinilah sebenarnya kemampuan dan kekuatan inti seorang da'i. Jika tidak maka ia hanya banyak bicara dan senda gurau di hadapan jamaah pengajian. Ia hanya kumpulan retorika yang tidak memiliki kecuali hanya nada, gaya, intonasi dan jenis latihan mempraktekkan cara berceramah. Ini serius, karena lalai berarti kehinaan dan murka Allah swt menanti.

Masyarakat memahami profil seorang da'i, pastilah orang yang mulia, terhormat, banyak mengingat serta dekat dengan Allah. Namun, jika tidak, betapa ia hanyalah topeng atas nama agama. Nauzu billah min zalik.//Zul.... Taparia, 12 Ramadhan 1433 H..

Doaku

YA Allah
Tetap saja kemampuan membawa diriku amat lemah
Bimbinglah saya ke jalan-Mu.
Suara Hatiku, ucapan lidahku, bisikan dadaku, gerakan kaki dan tanganku ke arah jalan-Mu
Masih terseok-seok di tepian jalan kehidupan.
Sebagian ayat-ayat-Mu telah saya baca dan pahami, namun tetap sama saja
Saya tidak mampu mengandalkan pengetahuan dan bacaan itu.
Pengalaman demi pengalaman mengajariku
Justru kesombongan dan keangkuhan yang mengemuka di kala mengandalkan ilmu, pengalaman dan hasil bacaan.

Ya Allah........
Aku bersimpuh di hadapan-Mu
Hati dan jiwaku kering dan keluh untuk memberikan alasan
Sepatah kata semoga dapat mewakili diriku dan pribadiku: Ya Allah bimbinglah tunjukkanlah dan berilah kekuatan dalam memenuhi titah-Mu.

Ya Allah......
Saya sangat takut jika ilmu yang Engkau tanam di dadaku tidak mampu membawa diriku menggapai ridho-Mu.
Saya takut, khawatir bahwa saya lalai dan lengah akan perintah dan larangan-Mu.

Ya Allah.....
Hanya jalan dan petunjuk-Mulah yang ingin saya jalani. Bukan yag lain. Masjid Nurul Huda Adi-Adi, jam 06:03, 9/09/2012.//Zul....
Sent from Samsung Mobile

Sabtu, 08 September 2012

Air Terjun Adi-Adi Desa Botteng Utara

Beberapa waktu lalu, saya bersama rombongan siswa MIN Botteng coba berkunjung ke air terjun Adi-Adi. Ya,  semacam refreshinglah dari kesibukan harian Madrasah, begitu kira-kira. Niat berkunjung juga penasaran cerita tentang Air Terjun di Adi-Adi ini dari siswa-siswa. Setelah berjalan kaki kurang dari 30 menit dari lokasi MIN, kami akhirnya tiba di lokasi Air Terjun. Ternyata benar, Air Terjun di sebelah selatan kebun induk ini memang indah. Sekalipun di seputar air ini dipenuhi perkebunan tanaman jahe, tapi tidak mengurangi keindahan Air Terjun. 

Seperti umumnya pemandangan alami akan terlihat gersang karena sekitarannya telah di jamah tangan manusia. Tapi dari dekat dapat melihat Air Terjun ini secara face to face, serasa tidak sedang berasa di Adi-Adi. Ini bukan gombal lho ya.... betula !

Saya bersama siswa MIN Botteng coba mandi dan menikmati Air Terjun. Sebelum acara bakar ikan dimulai seperti rencana semula, kami berusaha menelisik dan memeriksa asal atau hulu Air Terjun. Sebagian diantara rombongan berjalan sekitar 50 meter ke arah hulu. 

Akhirnya diperoleh kesimpulan ternyata Air Terjun ini hulunya di Tande-Tande terus ke Dusun Salurombia kemudian memutar ke arah selatan di bagian barat kebun Induk Adi-Adi.

Nah.... bagi teman-teman atau adik-adik yang belum sempat berkunjung ke Air Terjun yang belum punya nama ini, postingan ini saya sertakan foto-foto dengan latar pemandangan Air Terjun. //Zul...Bagaimana menurut penilaian anda? Silahkan dinikmati.

Kenangan bersama Saudara Sabri














 
Bersama Bakar Ikan di depan Air terjun













Amin Rais Bergaya dengan latar Air Terjun
















 
Amin Rais, Bu Nanik, Iwan dan Apriandi



















Sajjadul Aziz















Bakar ikan bersama dengan latar air Terjun














Jumat, 07 September 2012

BERILMU DAN TIDAK BERILMU

Sebenarnya guru sebagai orang yang memiliki ilmu, tidak selamanya di kelas. Guru juga ada guru luar kelas, seperti saat praktek lapangan, study tour dll. Guru memiliki jam-jam wajib hadir dan mengajar di kelas sebagaimana tercantum di jadwal PBM. Guru, yang menyepelekan jadwalnya sama saja dengan petani yang menyepelekan parang dan cangkulnya. Ya, itu perumpamaan yang mendekatkan kita kepada pemahaman akan hak  dan kewajiban guru.
Sebenarnya guru lebih mampu memberikan alasan mengapa absen mengajar di kelas atau mengapa harus aktif hadir daripada siswa sendiri memberikan alasan. Apalagi ada ungkapan, tidak mungkin menggurui guru.
Namun, sebenarnya guru yang mengingat tanggung jawabnya secara obyektif, rasanya berat untuk tidak hadir mengajar di kelas kecuali karena benar-benar ada uzur. Secara sederhana, sama juga kewajiban melaksanakan shalat lima waktu. Bagi mereka yang mengerti wajibnya menunaikan shalat lima waktu, jiwanya merasa berutang selama belum melaksanakan shalat. Mereka yang belum menyadarinya, sama saja dalam pikirannya melaksanakan shalat atau tidak.
Betapa jauh, memang, jarak antara menyadari dan belum menyadari. Jarak ini sama saja jauhnya antara mengetahui dan tidak mengetahui sesuatu. Jika ada yang bertanya, mengapa demikian. Jawabannya, itu rahasia Allah swt yang ditanam di dalam ilmu dan kesadaran dan dicabut dari mereka yang tidak berilmu serta tidak menyadari. Semoga kita diilhami Allah ilmu dan kesadaran. Amien.//Zul....
 

HATIMU SEBENARNYA BUKAN MILIKMU

Kalau pernah berpikir bahwa seluruh apa yang ada dalam dirimu dan genggamanmu adalah milikmu, berhentilah sekarang mengakui itu. Saya  sebelumnya berpikir seperti itu juga, ternyata salah besar. Anda tidak percaya, silahkan renungkan berikut ini. Saat kehidupan didera problem berat, hati bergoncang keras, tidak tenang, galau, sedih, marah, benci dll. 
Seharusnya dengan logika kepemilikanmu, dapat mengelola perasaan dan logika demi menghindari keterjepitan oleh problem. Anda seharusnya mampu memenej jiwa dan hatimu, ke arah keinginan anda, selera, dan keinginanmu. Tapi, ternyata tidak. Hatimu dan kebebasannya, senantiasa bergerak entah ke mana tapi pasti jujur. Secara obyektif hatimu terus bergerilya sekalipun pemilik hati mengalami stres demi stres karena pengembaraannya yang obyektif. Mungkin coba engkau berusaha mengendalikannya sesaat, tetapi hati  akan kembali pada keadaan obyektifnya. Demikian pula, duka hati dan galaunya jiwa tidak selesai dengan kata, karena suara hati lebih tinggi daya nalarnya daripada ucapanmu.

Oleh karena itu, jika engkau ingin berbahagia, hendaklah engkau mengikuti suara hatimu. Jika tidak, engkau akan terjepit oleh kejujurannya, engkau akan dibuat sedih, susah, galau oleh dorongan kebenaran yang menyabik-nyabik perasaan dan pribadimu. Dan, tidak mungkin engkau melawannya, apalagi menghancurkannya. Karena menghancurkannya sama saja menghancur dirimu juga. Mungkin nasihat ini belum masuk dalam kesadaranmu.tetapi fakta dan pengalaman hidup akan memaksa engkau mengakui bisikan jujurnya.

Sudah banyak orang yang merasakan hancur hidupnya karena membantah dan melawan suara hati. Bahkan sebagian mereka sudah tidak mampu bangkit kembali meraih kesadaran hatinya yang bening, dan berujung dengan ketidakberdayaan serta tenggelam dalam lautan penyesalan. Seperti kata pepatah, sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna alias kehancuran.
Kesimpulannya, itu tadi, bahwa HATIMU BUKAN MILIKMU, tapi HATIMULAH yang "MEMILIKI" dirimu.//Zul...