Rabu, 02 November 2011

DIBERI INGKAR, DIAMBIL PEMBERIAN PUTUS ASA

Al-Qur’an bercerita panjang lebar soal manusia. Wajar saja karena Dia yang mewahyukan Al-Qur’an  adalah pencipta manusia dengan segala potensi kemanusiaan. Lebih menakjubkan lagi, pernyataan Al-Qur’an mengenai manusia memiliki nilai kebanaran ilmiah. Bahkan sekalipun dengan menggunakan logikan dan penyelidikan sederhana. Bukan itu saja, jika dengan hati dan kesadaran yang jujur, setiap kita dengan sangat meyakini secara factual kebenaran-kebenaran Al-Qur’an. Berikut ini penulis kemukakan adalah watak manusia yang disebutkan Al-Qur’an bahwa jika manusia di hadang bahaya, malapetaka, kesempitan, kemiskinan dan kesusahan hidup, manusia mengadu, meminta dengan iba, taat kepada Tuhannya. Akan tetapi ketika manusia memperoleh nikmat yang membahagiakan, kelimpahan rezeki, kesehatan dan kelonggaran, manusia dengan mudah mengingkari dan tidak mampu bersyukur kepada-Nya. Coba simak ayat di bawah ini baik-baik:
وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيباً إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَاداً لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلاً إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ﴿٨﴾
“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka."
Amatilah diri sendiri atau tetangga dan teman, kemudian paralelkan denga ayat di atas, niscaya kita mendapatkan kenyataan sama dengan ayat di atas. Dikala kepepet, dan menderita, dengan hati yang runduk mengadu dan meminta pertolongan-Nya. Akan tetapi ketika Allah member kelonggaran, permintaan dikabulkan, diripun berubah seakan tidak pernah mengadu dan runduk kepada-Nya. Lupa kalau kemarin menangis meminta, merundukkan wajah dan pikiran kepada-Nya.

1 komentar: